Harian Swasembada
Jakarta, 1 Juni 2010
Sejak dua tahun yang lalu, Pemadaman Listrik di DKI semakin merajalele. Hampir setiap siang atau malam setiap area di kebanyakan wilayah padam selama 6 jam. “Ini sebuah kejahatan !” kata Pakar Telematika Rio Suryo. Sekolah Tinggi Telematika di bilangan Menteng miliknya selalu menjadi sasaran pemadaman.
“Mau bagaimana lagi !, pasokan energi untuk listrik masih sangat terbatas !” begitu komentar Direktur PLN ketika ditanya pada satu kesempatan. Sementara itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir batal dibangun karena protes keras masyarakat.
Namun saat ini, masa itu sudah lewat. Dominasi PLN sebagai pemasok listrik sudah lewat. PLN sudah tidak lagi bisa hanya ‘jualan listrik’ saja, PLN sudah saatnya berempati pada kebutuhan masayarakat akan layanan. Kini PLN mulai kewalahan karena turunnya demand pelanggan sejak masyarakat mulai memanfaatkan solusi yang ditawarkan oleh perguruan tinggi yang bekerja sama dengan LSM – LSM dan beberapa pengusaha kecil dan menengah.
Hal ini sudah pernah terjadi dengan Pertamina beberapa belas tahun yang lalu sejak terlena mendominasi pasokan minyak di Indonesia, kemudian tersadar pangsa pasarnya turun sejak hadirnya pesaing seperti Shell dan Petronas yang lebih memahami kebutuhan nasabah atas layanan. Setelah melakukan transformasi menjadi perusahaan yang mengedepankan Emotional Benefit, Pertamina kini telah menjadi perusahaan yang diacungi jempol dengan layanan yang bermutu dan memuaskan. Saat ini malah Pertamina tengah mempersiapkan diri untuk menjadi perusahaan yang mengedepankan Spiritual Benefit, dimana mereka tidak hanya mencari keuntungan semata, tetapi lebih mengedepankan kemaslahatan umat.
Beberapa project Pertamina yang akan diujicobakan adalah penggantian bahan bakar fosil dengan bahan bakar air dan implementasi Blue Energy. Project ini diharapkan akan menurunkan kadar polusi dan lebih Earth Friendly. Project ini juga didanai oleh The Global Warming Awareness Program dari PBB.
Kembali ke PLN, mungkinkah kini saatnya mereka melakukan Transformasi ?. “Sudah cukup dengan jargon penghematan !”, begitu kata ketua LSM Laskar Mandiri. “Sudah saatnya kita swasembada listrik !”. Solusi itu antara lain adalah penyediaan panel surya yang sangat murah karena dibuat dari material bekas. Para mahasiswa teknik perguruan tinggi mengajarkan dengan gratis bagaimana membuat panel tersebut kepada para pekerja bengkel di sekitar Jakarta.
Masyarakat sangat menyambut gembira solusi ini karena dapat menggantikan pasokan listrik sampai 20% – 50% setiap harinya, tergantung konsumsi dan besar panel surya yang dipasang di atap rumah dan tentu saja murah.
(PB)


0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.