Tomorrow Newspaper Today !

Gamala Mart Kokoh Ditengah Runtuhnya Supermarket Lokal

Agustus 15, 2008 · 2 Tanggapan

Marketing Professional Magazine

Jakarta, 7 Januari 2011

Pengaruh globalisasi semakin mendera industri lokal. Di bisnis supermarket, sudah banyak jatuh korban. Puluhan supermarket lokal dan pasar tradisional tutup dan gulung tikar sejak supermarket asing masuk dan merambah pasar retil.

Selain memperbanyak outlet hingga ke pelosok, supermarket asing pun mengakuisisi perusahaan supermarket lokal bahkan pasar tradisional. Hampir sudah tidak ada tempat lagi usaha retil bagi pengusaha lokal terutama di daerah perkotaan. Bahkan produk – produk khas lokal seperti makanan daerah, pakaian dan industri kerajinan lokal dapat ditemukan di supermarket – supermarket asing tersebut.

Namun ditengah persaingan yang sangat ketat ini, masih ada satu supermarket lokal yang bertahan. Gamala Mart yang baru tumbuh dua tahun yang lalu tetap hadir dan bahkan semakin tumbuh di masyarakat dengan konsep penjualan yang berbeda.

Dimulai dari kota Semarang, dan akhirnya outletnya hadir di kota kota besar lainnya, Gamala Mart tidak banyak menyajikan produk – produk generik seperti yang ada di supermarket – supermarket biasa.

“Saya tidak mau seperti supermarket lokal lain yang menyajikan produk yang sama dengan yang dijual di supermarket asing dan akhirnya tidak mampu bersaing” ujar Karce sang pemilik Gamala Mart.

Produk yang dijual di Gamala Mart memang bukan produk yang biasa dipajang di “etalase’ supermarket. Apabila supermarket biasa menyajikan begitu banyak produk, Gamala Mart menyajikan lebih sedikit produk namun variannya sangat beragam.

Bayangkan saja, Gamala Mart sanggup menyajikan 150 merek rokok yang didapatkan dari berbagai industri lokal di seluruh Indonesia, 45 jenis tepung makanan (terigu, gandum dll), 75 merek kecap, sampai puluhan ribu kaset, CD dan PH lagu lagu dan filem kuno atau langka.

Keberhasilan Gamala Mart menjadi satu studi yang menarik di Akademi Marketing MarkPlus. Hermawan Kertajaya mengatakan “Gamala Mart mengadopsi prinsip Long Tail-nya Chris Anderson yang populer beberapa tahun yang lalu”.

Walaupun strategi ini sempat ditertawakan oleh supermarket lokal lain di awal pertumbuhannya, namun ternyata peminat barang langka sangat banyak.

“Saya akhirnya tidak perlu jauh jauh pulang kampung untuk membeli rokok kesukaan saya” begitu kata salah seorang pelanggan. “Saya juga dapat mengkoleksi CD – CD Rock ‘n Roll kesukaan saya yang tadinya sulit ditemukan dan perlu biaya mahal untuk mendapatkannya”.

“Memang tidak banyak jenis produk yang ada di Supermarket saya.”. Kata Karce. “Saya hanya menjual jenis produk primer yang banyak diminati masyarakat, namun variannya sangat banyak. Bila jenis produk yang dijual di supermarket itu dihitung banyaknya secara vertikal, maka produk di supermarket saya, secara vertikal sedikit, namun secara horizontal sangat banyak. Dan saya yakin, karena selera pasar tidak dapat diatur, maka demand atas produk non generik tersebut sangat tinggi.”.

(MPM)

Kategori: Business · Social Economy
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar