Tomorrow Newspaper Today !

Entries tagged as ‘BTW’

Keringanan Pajak bagi Anggota Bike To Work

Juli 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Metropolitan News.com

Keringanan Pajak bagi Anggota Bike To Work

Jakarta, 5 Oktober 2012

Sejak dihapuskannya subsidi BBM 100% oleh pemerintah, pada 5 Maret 2012 yang lalu diinformasikan oleh BPS (Biro Pusat Statistik) bahwa komunitas Bikers yang tergabung menjadi anggota Bike To Work (B2W) di Pulau Jawa telah menjadi 5 juta orang. Sementara itu, anggota Bike To School ( B2S) juga mulai melonjak menjadi 4 juta orang dalam waktu 2 tahun saja.

Gerakan ini telah menghasilkan efisiensi yang cukup baik sehingga tingkat konsumsi BBM menurun cukup besar. Dalam hal ini Pertamina sebagai penyulai terbesar BBM di Indonesia lebih banyak menjual Bahan Bakar fosil yang sudah mulai habis ini ini keluar negeri dari pada di konsumsi di dalam negeri.

Walaupun Indonesia bukanlah negara pencetus B2W, tetapi keberhasilan program ini mendapat perhatian dunia karena selain menghasilkan efisiensi BBM, juga menurunnya penggunaan kendaraan bermotor ini juga menurunkan kadar polusi udara. Namun hal ini belum cukup bagi Indonesia untuk mendapat penghargaan PBB yaitu ‘Global Warming Awareness Award’ (GWAA) seperti Singapura dan Swiss.

Mendapat GWAA berarti mendapat keringanan dan kemudahan dalam penetrasi bisnis global. Dalam rangka mendapatkan GWAA tahun depan, pemerintah mencanangkan program keringanan pajak bagi anggota B2W Indonesia. Keringanan ini diberikan dalam bentuk pengembalian pajak sebesar 25% pada saat melakukan Setoran Pajak Tahunan (SPT) di Kantor Pajak dengan mencantumkan nomor anggota B2W.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan animo masyarakat untuk menjadi anggota B2W dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang menggunakan BBM.

Walaupun program ini mendapat kritik keras dari berbagai kalangan termasuk dari DPR, namun pemerintah tetap akan mulai menjalankan program ini mulai akhir tahun ini.

(MN)

Kategori: Life & Social Activities
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Sikap Pandai Menyiasati kenaikan harga dan BBM

Juli 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pojok Opini: Harian Ibukota
Sikap Pandai Menyiasati Kenaikan Harga dan BBM
oleh Rio AP, Mahasiswa S3 UI

Jakarta, 31 Agustus 2010

Terus terang saya risih kalau ada orang yang meributkan masalah kenaikan BBM. Gak habis pikir gitu loh. Sepertinya bener kalau banyak orang bilang termasuk kita sendiri kalau orang Indonesia itu gak kreatif. Malah sebaliknya: malas dan destruktif.

Emangnya saya gak kesusahan dengan naiknya BBM ?. Susah brooo hidup ini, SUSAH. Amit – amit. Tapi apa karena itu kita jadi trus teriak ? protes ? demo ?. Kayaknya gak smart gitu jadi orang !. Kayaknya kalau ikut kok merasa jadi BODOH !.

Perubahan harga BBM itu kan haknya pemerintah. Ya toh !. Perubahan terjadi karena pengurangan subsidi yang selama ini meninabobokan masyarakat, selama ini MEMANJAKAN masyarakat. Seperti anak sekolah selama ini diantar jemput terus disuruh naik kendaraan umum. Seperti anak yang biasanya disuapin trus kemudian disuruh makan sendiri. Seperti orang yang biasa pakai pembantu terus pembantunya mudik. Seperti Bapak yang biasanya dijemput sopir naik mobil dinas setelah pensiun lupa kalau dia belum punya mobil pribadi sehingga harus naik sepeda motor anaknya.

Itu namanya orang kehilangan pegangan tapi gak punya cadangan / backup. Itu kan namanya perubahan habit. Perubahan kenyamanan. Perubahan beban. Setiap perubahan apapun kok masyarakat Indonesia selalu nolak. Apa orang Indonesia memang gitu ya ?.

Padahal masih banyak yang perlu ‘dikhawatirkan’ oleh manusia yang hidup dibumi ini yang lebih KRITIS dari pada sekedar kenaikan harga BBM. Misalnya masalah Hutan Indonesia yang semakin digunduli, masalah pemanasah Global, masalah korupsi yang belum keluar dari sistem. Yang itu – itu yang mengancam kehidupan kita kedepan. Nah yang kayak gini yang seharusnya bisa menggoncang kedudukan seorang Presiden !. Bukannya masalah BBM !. Kalau masalah BBM bisa menggoncangkan kedudukan seorang Presiden, bhwaaah !, (mau bilang betapa bodohnya masyarakat Indonesia, gak tega).

Saya pikir, sebaiknya cabut saja sekalian subsidi itu 100% !. Nah, sekarang bagaimana menyikapi secara benar perubahan tersebut. Nah saya mengumpulkan data perilaku dari manusia yang bereaksi secara pintar selayaknya manusia diberi otak oleh Tuhan.

Yang pertama dilakukan orang biasanya adalah mikir. Iya, mikir !. Tapi bukan berpikiran pendek. Tapi berpikir secara sistematis, yaitu memikirkan tindakan preventif Jangka Pendek, lalu tindakan Jangka Menengah, dan Jangka Panjang.

Kalo beban hidup seseorang naik, reaksi yang paling mudah adalah melakukan penghematan aatu efisiensi. Kalo biasa menggunakan kendaraan bermotor ngalor ngidul kemana mana, suka dugem, suka balapan, suka jalan jalan, nah sudah saatnya mengurangi, atau mulai lebih sering gunakan kendaraan umum. Kalau mobilnya boros, diiritkan atau pake kendaraan yang lebih irit. Kurangi aksi tancap gas.

Terus, mengurangi pegeluaran yang bersifat pemborosan lainnya. Menurunkan standar hidup, misalnya setiap hari makan ayam jadi seminggu dua kali. Mencari pos pendapatan lain ( yang halal temtunya). Buka usaha sampingan.

Kemudian reaksi yang berikutnya orang mulai mikir, tindakan selanjutnya yang lebih efektif apa ya ?. Temen saya yang pintar bilang begini: O, ya. Saya kan naik sepeda motor sendirian tiap hari. Bagaimana kalao saya ‘tukar’ sepeda motor saya dengan sepeda ?. Akhirnya dia menjadi anggota komunitas BIKE TO WORK (BTW) Jakarta.

Bagaimana kalau kita tambah satu komunitas lagi , yaitu Bike To School ? Jadi berkurang deh mobil antar jemput pribadi maupun kolektif. Aaaah… nantinya paling cuman ‘anak mami’ yang masih guna mobil jemputan.

Apa lagi ya ?. Salah satu teman saya yang tinggal di Bekasi kemudian berinvestasi, dengan membeli satu unit Rusunami yang lokasinya dekat dengan kantor. Katanya tahun depan dia sudah bisa berhemat biaya transportasi Jakarta – Bekasi, berhemat biaya ‘pegal-pegal’ Jakarta – Bekasi. Berhemat energi uang dan waktu selama kerjanya 20 tahun kedepan. Jadi selisih waktunya dia bisa rekreasi, jogging sore sore, fitness lebih lama.

Tau gak !, dampak dari adanya ratusan tower Rusunami di Jakarta apabila nanti tingkat huniannya bagus, maka juga akan berdampak efisiensi BBM. Bayangkan kalau pemerintah mengeluarkan Perda bahaw semua pekerja di Jakarta wajib berdomisili di Jakarta. Wah, betapa iritnya BBM, jalan tol Jakarta ke Bogor atau Bekasi bakalan lebih lowong. heheheh….

Trus, teman saya yang satu lagi yang tinggal dipinggir kota mengusulkan pada bossnya untuk kerja model SOHO. Karena sebagai seorang programmer, yang diperlukan darinya bukanlah sosok kehadirannya dikantor, tapi hasil kerja dan pemikirannya, maka bossnya mengijinkan dia kerja dirumah dan mengirimkan hasil kerjanya melalui internet untuk dikompilasi di Kantor. Meeting di kantor dilakukan hanya seminggu sekali. Beruntungnya teman saya ini, uang transportnya gak dipotong !. bweheheheh….. Berapa persen karyawan Jakarta yang bisa ‘dirumahkan’ tapi tetap produktif ?.

Apa lagi ya?, banyak lho kepintaran manusia ini yang bisa ditiru manusia lainnya yang bisa merubah destruktifitas menjadi efektifitas dan efisiensi.

O ya, saya dengar di sebuah kampung di Jawa Barat, berhasil mentransformasikan gas kotoran ternak menjadi gas untuk masak. Dan ini diimplementasi se kampung !. Hasil pengembangan dan kerjasama masyarakat dengan pihak Perguruan Tinggi. Pinter tuh ! Pinter !. Itu baru menggambarkan sikap pihak akademisi, membantu masyarakat memberikan solusi cerdas.

Temen saya yang memang sudah susah hidupnya, hanya bisa menambah amal dengan mulai membiasakan diri puasa Senen – Kemis. Tapi dia puas. At least usahanya tidak membuat orang lain sengsara. Sebenarnya tugas kita kita ini (yang sanggup main internet) memperhatikan teman teman kita yang lebih sengsara dari pada kita. Saya pikir sudah benar Tuhan memerintakan kita untuk menyisihkan sebagian rejeki kita untuk teman teman kita tersebut.

Nah jangka panjangnya gimana ?. Yang ini lebih bebas mikirnya. Yang jelas kita perlu mengembangkan energi alternatif. Misalnya pendanaan dari pemerintah untuk melanjutkan penelitian Blue Energi yang benar – benar efisien. Penggunaan Solar Cell di rumah rumah untuk mengganti paling tidak 50% atau lebih konsumsi listrik dirumah.

Jangan pemerintah mendanai untuk bikin kendaraan yang nota bene malah menggunakan energi yang sudah mau punah ini. Kalu memang mau mengembangkan alat transportasi, kembangkanlah alat transpertasi rapid massal. Kok kayaknya yang ini gregetnya gak nampak ya ? Padahal inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Yang baru ada di Jakarta ya itu Busway. Proyek monorel malah ilang beritanya. Yang ada ‘rangkanya’ merusak pemandangan Jakarta. Tapi sabar, sabar. Mudah mudahan diterusin.

(bersambung)

Kategori: Opini
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Komunitas Bike To Work mencapai 5 juta orang, Produsen Mobil Kelimpungan

Juni 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Metropolitan News.com

Jakarta, 5 Maret 2012

Sejak meningkatnya urban Jakarta dengan terbitnya PerDa No. 10 tahun 2010 mengenai Ketentuan Domisili Pekerja di DKI harus berdomisili di DKI, selain tingkat hunian Rusunami melonjak tajam menjadi 100%, juga berdampak positif bagi transportasi Jakarta.

Dalam waktu 6 bulan lalu lintas Jakarta yang menjadi setiap hari Pamer Paha ( PAdat MERayap tanPA HArapan) sejak PerDa tersebut terbit, kini malah berbalik menjadi lancar. Dari hasil survey BPS ( Biro Pusat Statistik) ternyata Komunitas Bike To Work meningkat tajam dalam waktu 6 bulan ini, dari 500.000 orang menjadi 5 juta orang.

Tentu saja hal ini menggembirakan Gubernur DKI, karena untuk yang kedua kalinya beliau dipanggil ke Istana untuk mendapat Penghargaan Satya Lencana Pembangunan kedua, karena Efisiensi BBM di Jakarta meningkat kembali menjadi 75%.

Namun dibalik itu, Produsen Mobil menjadi kelimpungan. Dampak dari gerakan ini menyebabkan omzet penjualan mobil di Jakarta menurun hingga 80%. 90% Showroom – showroom mobil kini berubah menjadi Showroom – showroom sepeda. Pedagang sepeda di pasar pasar tradisional kini menjadi Jutawan baru.

Besok, akan diadakan rapat Tingkat Menteri, untuk mengatasi masalah mobil ini. Menurut Jubir Presiden, Presiden akan memaksa produsen mobil untuk banting setir menjadi produsen kendaraan massal, seperti kereta api, bus, subway, dll.

(MN)

Kategori: Life & Social Activities
Ditandai: , , , , , , , , , ,