Entries tagged as ‘film’
Entertainment Today !
Jakarta, 1 September 2011

Picture from www.e-smartschool.com
Film yang ditunggu tunggu akhirnya selesai diproduksi : The Legend Of Malinkundang buatan Disney Pictures. Pada hari minggu besok premiere akan dilakukan serentak di seluruh AS. Namun sayang Indonesia baru dapat memutar film ini dua minggu lagi.
Bagi Indonesia ini adalah satu kebanggaan karena setelah sekian lama Disney membuat film animasi dari berbagai bangsa, baru kali ini Indonesia dapat menduniakan salah satu legendanya.
Atas usaha dari Bapak Yogianto P, Menteri Kebudayaan RI, Depertemen Kebudayaan berhasil menggolkan satu dari beberapa legenda yang diusulkan ke Disney Pictures. Legenda legenda yang diusulkan adalah Roro Jonggrang, Telaga Warna, Ken Arok & Ken Dedes, Sangkuriang serta yang terpilih, Malinkundang.
Brendan Fraser ( ‘George Of The Jungle’, ‘The Mummy’ )sebagai pengisi suara Malinkundang pada saat mendapat penawaran sebagai pengisi suara, tertarik lalu langsung meninjau lokasi legenda di Sumatera Barat selama 1 bulan bersama tim animator. Brendan kagum akan budaya Indonesia yang ternyata beraneka ragam dan dilestarikan dengan baik.
Pak Yogi dapat berbesar hati karena salah satu legenda yang tidak gol di Walt Disney malah mendapat ijin produksi oleh Universal, yaitu Legenda Sangkuriang. Namun film animasi baru akan selesai produksi tahun depan.
(ET!)
Kategori: Entertainment
Ditandai: animasi, brendan, Disney, film, fraser, Indonesia, Legend, Legenda, malinkundang, menteri, movie, Pictures, Sangkuriang, sumatera
Marketing Professional Magazine
Jakarta, 7 Januari 2011
Pengaruh globalisasi semakin mendera industri lokal. Di bisnis supermarket, sudah banyak jatuh korban. Puluhan supermarket lokal dan pasar tradisional tutup dan gulung tikar sejak supermarket asing masuk dan merambah pasar retil.
Selain memperbanyak outlet hingga ke pelosok, supermarket asing pun mengakuisisi perusahaan supermarket lokal bahkan pasar tradisional. Hampir sudah tidak ada tempat lagi usaha retil bagi pengusaha lokal terutama di daerah perkotaan. Bahkan produk – produk khas lokal seperti makanan daerah, pakaian dan industri kerajinan lokal dapat ditemukan di supermarket – supermarket asing tersebut.
Namun ditengah persaingan yang sangat ketat ini, masih ada satu supermarket lokal yang bertahan. Gamala Mart yang baru tumbuh dua tahun yang lalu tetap hadir dan bahkan semakin tumbuh di masyarakat dengan konsep penjualan yang berbeda.
Dimulai dari kota Semarang, dan akhirnya outletnya hadir di kota kota besar lainnya, Gamala Mart tidak banyak menyajikan produk – produk generik seperti yang ada di supermarket – supermarket biasa.
“Saya tidak mau seperti supermarket lokal lain yang menyajikan produk yang sama dengan yang dijual di supermarket asing dan akhirnya tidak mampu bersaing” ujar Karce sang pemilik Gamala Mart.
Produk yang dijual di Gamala Mart memang bukan produk yang biasa dipajang di “etalase’ supermarket. Apabila supermarket biasa menyajikan begitu banyak produk, Gamala Mart menyajikan lebih sedikit produk namun variannya sangat beragam.
Bayangkan saja, Gamala Mart sanggup menyajikan 150 merek rokok yang didapatkan dari berbagai industri lokal di seluruh Indonesia, 45 jenis tepung makanan (terigu, gandum dll), 75 merek kecap, sampai puluhan ribu kaset, CD dan PH lagu lagu dan filem kuno atau langka.
Keberhasilan Gamala Mart menjadi satu studi yang menarik di Akademi Marketing MarkPlus. Hermawan Kertajaya mengatakan “Gamala Mart mengadopsi prinsip Long Tail-nya Chris Anderson yang populer beberapa tahun yang lalu”.
Walaupun strategi ini sempat ditertawakan oleh supermarket lokal lain di awal pertumbuhannya, namun ternyata peminat barang langka sangat banyak.
“Saya akhirnya tidak perlu jauh jauh pulang kampung untuk membeli rokok kesukaan saya” begitu kata salah seorang pelanggan. “Saya juga dapat mengkoleksi CD – CD Rock ‘n Roll kesukaan saya yang tadinya sulit ditemukan dan perlu biaya mahal untuk mendapatkannya”.
“Memang tidak banyak jenis produk yang ada di Supermarket saya.”. Kata Karce. “Saya hanya menjual jenis produk primer yang banyak diminati masyarakat, namun variannya sangat banyak. Bila jenis produk yang dijual di supermarket itu dihitung banyaknya secara vertikal, maka produk di supermarket saya, secara vertikal sedikit, namun secara horizontal sangat banyak. Dan saya yakin, karena selera pasar tidak dapat diatur, maka demand atas produk non generik tersebut sangat tinggi.”.
(MPM)
Kategori: Business · Social Economy
Ditandai: Anderson, asing, Chris, film, generik, globalisasi, kaset, kecap, kuno, langka, lokal, long, mart, outlet, retail, retil, rokok, supermarket, tail, tradisional
Metropolitan News.
Jakarta, 5 Januari 2009
Masyarakat Indonesia ternyata tertarik dengan masalah Gay. Film ‘Gay’ yang disutradarai oleh Bung Hanung Pramantyo ternyata laku keras. Seperti halnya Ayat Ayat Cinta, film ini diserbu oleh penonton yang sebagian besar ibu ibu.
“Saya tidak ingin anak saya menjadi gay, jadi saya ingin tahu mengenai dunia mereka” komentar beberapa ibu ibu yang datang.
Film ‘Gay’ sendiri sebenarnya bercerita tentang perjalanan hidup seorang pria yang dahulunya bukan gay. Lukman Sardi sebagai pemeran utama mengatakan “Ceritanya unik dan menarik. Ini yang membuat saya tertarik memerankan Samsudin sang Gay”. Lanjutnya “Tokoh ini pada dasarnya bukan gay. Namun dia menjadi gay karena selama hidupnya setelah menikah dikekang oleh kecemburuan istrinya yang tidak menentu.”
“Bayangkan !” kata Anissa pemeran istri Samsudin “ Jangankan bicara sama perempuan, melirik wanita saja tidak boleh !. Baik itu dirumah, dijalan bahkan dalam pekerjaan”.
“Akhirnya, karena tokoh ini tidak pernah bergaul dengan wanita, setiap hari bergaul dengan pria, timbullah hasratnya kepada pria. Apalagi ternyata istrinya tidak mengerti dan terkadang menolak hasrat suami yang libidonya ternyata cukup tinggi”. Komentar Lukman.
“Samsudin yang malang” komentar Daeng Cotto pemilik Franchise Coto Makasar yang dalam satu saat mengajak ketiga istrinya nonton di Megaplex.
(MN)
Kategori: Entertainment
Ditandai: ayat, bioskop, Cinta, coto, film, gay, Hanung, ibu, istri, lukman, makasar, Megaplex, sardi