Entries tagged as ‘rokok’
HighwayNews
Jakarta, 5 Maret 2010
Setelah sukses menelorkan Fatwa Haram Rokok, MUI kembali mengeluarkan rancangan fatwa Haram baru, yaitu Fatwa Haram SMS yang mengarah kepada kemusyrikan yang selama ini banyak di iklankan di Televisi.
Bisnis SMS berlangganan memang menggiurkan. Pengelola bisa meraup omzet miliaran rupiah. Kita bisa tau siapa saja yang mendapat untung dari bisnis ini. Tapi sayang, rasa tanggung jawab moral terhadap masyarakat tidak banyak dipunyai orang orang yang menggeluti bisnis ini.
Maraknya SMS berlangganan yang menyesatkan akidah yang meminta kita untuk melakukan REG RAMAL, REG JODOH, REG REJEKI, REG ZODIAQ, REG PERUNTUNGAN, REG PRIMBON dan sejenisnya ini ternyata telah meresahkan banyak orang terutama para orang tua dan para ulama. Banyak anak anak yang menysihkan dan kekurangan uang jajan untuk membeli pulsa dan menghabiskan untuk berlangganan SMS ini.
Seperti halnya televisi, SMS jenis ini telah menjadi berhala baru. Karena itu MUI sebagai unsur yang turut bertanggung jawab atas kemaslahatan umat muslim di Indonesia, memutuskan untuk mengeluarkan fatwa bahwa SMS jenis ini haram.
Banyak pendapat yang menyetujui fatwa ini, namun pihak televisi dan telkom belum bergeming ( dimana hatinuraninya ? ). Seperti halnya usulan MUI untuk menempel label ‘Merokok itu Haram bagi Muslim’ di box rokok Indonesia, MUI juga mengusulkan apabila pihak televisi maupun telkom tetap tidak peduli dengan kemaslahatan umat dan tetap memikirkan uang semata, maka MUI menyaratkan dalam setiap tayangaan Iklan tersebut harus juga tertulis ‘Peringatan: haram bagi Muslim!’.
(HN)
Kategori: Life & Social Activities
Ditandai: haram, jodoh, MUI, musyrik, peringatan, peruntungan, poll, primbon, ramal, rejeki, rokok, SMS, televisi, telkom
Marketing Professional Magazine
Jakarta, 7 Januari 2011
Pengaruh globalisasi semakin mendera industri lokal. Di bisnis supermarket, sudah banyak jatuh korban. Puluhan supermarket lokal dan pasar tradisional tutup dan gulung tikar sejak supermarket asing masuk dan merambah pasar retil.
Selain memperbanyak outlet hingga ke pelosok, supermarket asing pun mengakuisisi perusahaan supermarket lokal bahkan pasar tradisional. Hampir sudah tidak ada tempat lagi usaha retil bagi pengusaha lokal terutama di daerah perkotaan. Bahkan produk – produk khas lokal seperti makanan daerah, pakaian dan industri kerajinan lokal dapat ditemukan di supermarket – supermarket asing tersebut.
Namun ditengah persaingan yang sangat ketat ini, masih ada satu supermarket lokal yang bertahan. Gamala Mart yang baru tumbuh dua tahun yang lalu tetap hadir dan bahkan semakin tumbuh di masyarakat dengan konsep penjualan yang berbeda.
Dimulai dari kota Semarang, dan akhirnya outletnya hadir di kota kota besar lainnya, Gamala Mart tidak banyak menyajikan produk – produk generik seperti yang ada di supermarket – supermarket biasa.
“Saya tidak mau seperti supermarket lokal lain yang menyajikan produk yang sama dengan yang dijual di supermarket asing dan akhirnya tidak mampu bersaing” ujar Karce sang pemilik Gamala Mart.
Produk yang dijual di Gamala Mart memang bukan produk yang biasa dipajang di “etalase’ supermarket. Apabila supermarket biasa menyajikan begitu banyak produk, Gamala Mart menyajikan lebih sedikit produk namun variannya sangat beragam.
Bayangkan saja, Gamala Mart sanggup menyajikan 150 merek rokok yang didapatkan dari berbagai industri lokal di seluruh Indonesia, 45 jenis tepung makanan (terigu, gandum dll), 75 merek kecap, sampai puluhan ribu kaset, CD dan PH lagu lagu dan filem kuno atau langka.
Keberhasilan Gamala Mart menjadi satu studi yang menarik di Akademi Marketing MarkPlus. Hermawan Kertajaya mengatakan “Gamala Mart mengadopsi prinsip Long Tail-nya Chris Anderson yang populer beberapa tahun yang lalu”.
Walaupun strategi ini sempat ditertawakan oleh supermarket lokal lain di awal pertumbuhannya, namun ternyata peminat barang langka sangat banyak.
“Saya akhirnya tidak perlu jauh jauh pulang kampung untuk membeli rokok kesukaan saya” begitu kata salah seorang pelanggan. “Saya juga dapat mengkoleksi CD – CD Rock ‘n Roll kesukaan saya yang tadinya sulit ditemukan dan perlu biaya mahal untuk mendapatkannya”.
“Memang tidak banyak jenis produk yang ada di Supermarket saya.”. Kata Karce. “Saya hanya menjual jenis produk primer yang banyak diminati masyarakat, namun variannya sangat banyak. Bila jenis produk yang dijual di supermarket itu dihitung banyaknya secara vertikal, maka produk di supermarket saya, secara vertikal sedikit, namun secara horizontal sangat banyak. Dan saya yakin, karena selera pasar tidak dapat diatur, maka demand atas produk non generik tersebut sangat tinggi.”.
(MPM)
Kategori: Business · Social Economy
Ditandai: Anderson, asing, Chris, film, generik, globalisasi, kaset, kecap, kuno, langka, lokal, long, mart, outlet, retail, retil, rokok, supermarket, tail, tradisional
HiTechMagz
Surabaya, 30 November 2011
Sebuah kebanggaan bagi arek Suroboyo karena dari tangan mereka telah lahir sebuah produk hi tech: Helmod.
Dari sebuah kompetisi ide kreatif yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebuah Perusahaan Rokok, Helmod berhasil memenangkan kompetisi dan menjadi juara pertama. Helmod adalah sebuah helm bagi pengendara sepeda motor yang dapat memberikan informasi yang berguna dan hiburan bagi penggunanya.
Helmod dari luar terlihat seperti helm motor biasa. Namun kacanya adalah kaca anti gores dan anti pecah, dapat berfungsi sebagai layar komputer untuk memvisualisasikan informasi seperti informasi kecepatan kendaraan dan rute tujuan (GPS mode). Layar helmet juga dapat menginformasikan jarak kendaraan yang ada di depan atau yang ada di belakang, informasi isi tangki BBM, informasi jarak yang telah ditempuh, sisa jarak yang akan ditempuh ke tempat tujuan.
Pada keadaan kecepatan kurang dari 1 km/jam helmod dapat menampilkan siaran televisi, bahkan layar komputer. Pada bagian sisi helmet dapat ditarik kebawah, untuk mengeluarkan ‘keyboard’ yang terbagi dua yaitu pada sisi kiri dan sisi kanan. Sehingga ketika pengendara sedang duduk mengetikkan suatu perintah di keyboard, terlihat seperti seseorang yang sedang menggaruk garuk bawah kedua telinga.
Helmod juga dilengkapi speaker stereo kecil yang dapat memperdengarkan lagu lagu mp3 atau radio yang dapat dipilih melalui perintah suara.
Selain itu dengan teknologi bluetooth, Helmod dapat menjadi helmet phone, sehingga pengendara dapat berkomunikasi telepon secara handsfree.
TIm Bengkel Kreatif “Nyoto” sebagai penemu Helmod, akan menerima penghargaan yang akan disiarkan di Televisi pada besok malam. Pada wawancara singkat dengan Cak Nyoto ketika ditemui disebuah pameran teknologi Surabaya, mengenai asal usul nama Helmod, Cak Nyoto secara asal menjawab “Ya, itu gabungan dari kata Helm dan kata Ipod, jadi Helmod”. Ketika ditanyakan tentang inspirasi pembuatan helm ini, Cak Nyoto menjawab “Yaaa, saya itu biker Suroboyo. Setiap hari naik motor antar jemput bojo kerja. Jaraknya agak jauh dan suka boring kalo terkena kemacetan. Makanya saya suka bawa laptop di ransel. Tapi jadi repot kalo setiap hari bawa laptop. Makanya saya pikir kalau bisa saya gabungkan helm, Hape, Ipod dan laptop dalam satu paket Helmod, yang bisa membantu mencari jalan alternatif di kemacetan, helm yang bisa menghibur dan berkomonukasi dijalan, dan helm yang bisa menghilangkan boring ketika menunggu istri pulang kerja”.

- image:www.wemakemoneynotart.com
Kategori: Invention · Science & Technology
Ditandai: bengkel, GPS, helm, hiburan, hitech, ide, informasi, ipod, juara, keyboard, Kreatif, layar, mp3, rokok, surabaya, visual